Reni Tangmau

Reni Tangmau

Staf Administrasi pada UPT Puskesmas Oebobo

Website URL: http://puskesmasoebobo@yahoo.com   |   Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Hari kesehatan mental setiap tahun diperingati pada tanggal 10 Oktober. Tahun ini WHO, menyerukan peningkatan besar-besaran dalam investasi kesehatan mental. Kita tidak hanya perlu menjaga kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental. Mengingat kesehatan mental yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh Terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini.

Aturan new normal  menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan cepat terhadap kebiasaan baru. Kondisi tersebut diperparah dengan dampak sosial ekonomi yakni potensi terkena PHK yang membuat masyarakat risau masalah finansial, pekerjaan, dan masa depan seusai pandemi berakhir. Maka tak heran jika masyarakat mengalami gangguan mental di tengah pandemi.

Gangguan mental memiliki tanda-tanda tertentu, dan alangkah baiknya apabila kita memberi perhatian baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar kita, sehingga kita dapat mengambil langkah yang tepat dalam memberikan pertolongan. Berikut beberapa tanda seseorang mengalami gangguan mental akibat pandemi :

  • Perubahan pola tidur
  • Gangguan pola makan.
  • Sulit berkonsentrasi. 
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. 
  • Timbulnya rasa bosan dan stres, terutama pada remaja dan anak-anak karena terus berada di rumah dan harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. 
  • Memburuknya kesehatan fisik, khususnya bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. 
  • Rasa takut berlebihan akan keselamatan diri dan orang-orang terdekat. 
  • Muncul gangguan psikosomatik. Kecemasan dan gangguan mental ini kemudian akan menimbulkan ketidakseimbangan di otak, yang pada akhirnya timbul menjadi gangguan psikis, atau disebut juga psikosomatik. Ketika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka ia dapat merasakan gejala seperti penyakit covid-19, yakni merasa demam, pusing, atau sakit tenggorokan, padahal suhu tubuhnya normal.

 

Jika Anda maupun orang terdekat merasakan tanda-tanda di atas, segera lakukan beberapa langkah untuk menanganinya, antara lain:

  1. Lakukan aktivitas fisik

Pilih aktivitas fisik seperti olahraga ringan yang mampu menenangkan pikiran serta membangun mood lebih baik. Contoh yang dapat dicoba antara lain yoga, latihan pernapasan, peregangan, dan sejenisnya. Olahraga membantu tubuh memproduksi hormon endorfin untuk meredakan stres. 

  1. Tetap konsumsi makanan bergizi seimbang

Pastikan pola makan tetap dijaga secara teratur dengan asupan bergizi seimbang. Tubuh yang sehat dapat menjaga kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung.

  1. Jauhi kebiasaan buruk

Hindari rokok dan alkohol ketika sedang stres. Sebaliknya, tidur dan istirahat yang cukup. 

  1. Lakukan Hoby anda

Beri waktu luang untuk mengerjakan hobi atau mencoba hal baru.Anda juga disarankan membuat rutinitas favorit, seperti menonton film kesukaan atau mendengar musik untuk mengusir rasa jenuh dan meredakan stres.

  1. Bijak menerima informasi

Paparan pemberitaan mengenai pandemi secara intens dapat memicu kecemasan berlebih. Pastikan untuk mengurangi dan membatasi informasi mengenai pandemi. 

 

Selain kelima hal di atas, sangatlah penting untuk menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat, terutama jika memiliki masalah untuk diceritakan.Terus menjaga hubungan dengan lingkungan, baik melalui telepon maupun video call penting untuk kesehatan jiwa Anda agar lebih tenang. 

Jika tanda-tanda semakin parah dan penanganan mandiri tidak cukup, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog maupun dokter spesialis kejiwaan.

Ayo, tetap jaga kesehatan, selalu berpikir positif dan saling mendukung dalam menghadapi masa pandemi ini!

 

Disadur dari : www.siloamhospitals.com; www.tirto.id; www.waspada.co.id

UPTD Puskesmas Oebobo menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial Kesehatan di Kelurahan Oebobo, Oetete dan Fatululi.

Kegiatan Bakti Sosial diselenggarakan pada hari Rabu, 30 September di RT 14 dan 16, Kelurahan Oebobo. Kamis, 1 Oktober di RT 25 dan 27, Kelurahan Oetete dan Jumat, 2 Oktober di RT 14, Kelurahan Fatululi.

Kegiatan yang dilakukan berupa pemeriksaan dan konsultasi kesehatan umum, serta pemberian obat gratis. Pelayanan ini dilakukan untuk menjangkau masyarakat kurang mampu dan masyarakat yang tidak memiliki kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

 

dr. Maria K. Mari sedang melakukan pemeriksaan kesehatan umum pada masyarakat

 

Petugas maupun masyarakat yang hadir mematuhi protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menjaga jarak selama kegiatan berlangsung.

Perawat Lydia Manek, S.Kep, Ns. sedang mengukur suhu tubuh pengunjung sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan

 

Masker merupakan salah satu item yang sangat dibutuhkan untuk melindungi diri dari bahaya covid-19. Masker wajib dipakai saat hendak beraktivitas di luar rumah. Namun, bagi sebagian orang, sering menggunakan masker malah menimbulkan masalah pada kulit wajah berupa jerawat, yang dikenal dengan sebutan maskne.

Maskne atau mask acne merupakan jerawat yang terbentuk di area yang tertutup oleh masker, seperti dagu, hidung, atau pipi bagian bawah. Sama seperti jerawat pada umumnya, maskne dapat mengganggu penampilan dan bisa meninggalkan bekas jerawat yang menjengkelkan.

Menggunakan masker dalam jangka waktu yang lama akan membuat kulit wajah terus bergesekan dengan masker. Hal ini dapat memicu iritasi dan peradangan pada kulit. Berhubung saat ini menggunakan masker tidak bisa ditinggalkan, alhasil kulit menjadi semakin meradang dan mudah tumbuh jerawat.

Ditambah lagi, berbicara dan menghela napas saat mengenakan masker dapat menjebak hawa panas yang membuat kulit wajah menjadi berkeringat serta lembap. Kondisi ini bisa menjadi sarana yang baik bagi kuman dan bakteri untuk berkembang biak.

Selain karena masker itu sendiri, penggunaan masker yang tidak tepat juga bisa menimbulkan maskne, lho. Masker bedah yang digunakan berulang kali atau masker kain yang dicuci asal-asalan bisa menjadi tempat pertumbuhan bakteri dan kuman.

Nah, kombinasi antara iritasi, peradangan, dan berbagai kuman pada kulit merupakan ramuan yang sangat pas untuk memunculkan penyakit kulit, seperti biang keringat, eksim, dermatitis seboroik, rosacea, termasuk jerawat!

Ayo Cegah Maskne dengan Cara Ini

Kamu perlu melakukan pencegahan maskne dengan beberapa cara berikut :

1. Gunakan masker dengan bijak

Jika kamu memakai masker bedah, pastikan tidak menggunakannya berulang kali atau seharian penuh, ya. Ganti maskermu jika dirasa sudah terlalu lembap. Jadi, saat kamu sedang beraktivitas di luar rumah, sediakanlah 2–3 masker tambahan agar kamu memiliki cadangan ketika masker yang sedang dipakai sudah perlu diganti.

Rutin mengganti masker juga berlaku saat kamu menggunakan masker kain. Jangan menggunakan kembali masker yang sudah dipakai, sebelum dicuci. Cuci masker kain dengan air panas untuk membunuh kuman yang menempel pada permukaan kain.

2. Bersihkan wajah setelah menggunakan masker

Setelah seharian beraktivitas di luar rumah mengenakan masker, bersihkan wajah dengan sabun wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu, ya. Memilih sabun wajah yang sesuai jenis kulit ini penting, karena penggunaan jenis sabun yang salah justru bisa memicu timbulnya jerawat.

Kamu juga bisa menggunakan pembersih wajah yang mengandung ceramide untuk mencegah kulit wajah teriritasi dan kering. Selain itu, kandungan ini juga bisa melindungi lapisan kulit teratas dari kerusakan. Hal ini penting untuk mencegah kulit mengalami iritasi akibat bergesekan dengan masker selama seharian.

3. Gunakan pelembap

Oleskan pelembap agar kulit wajahmu senantiasa terhidrasi dan tidak kusam. Pilihlah pelembap dengan bahan yang ringan dan tidak mengandung banyak minyak. Bila perlu, pilih produk pelembap yang menyejukkan sehingga dapat menenangkan kulit yang merah akibat tergesek masker.

4. Gunakan tabir surya

Jangan lupa juga oleskan tabir surya 15 menit sebelum kamu keluar rumah, ya. Pakailah tabir surya khusus wajah dengan kadar SPF 30 atau lebih untuk mencegah hiperpigmentasi kulit akibat sinar matahari.

Kamu juga bisa memilih tabir surya yang diperkaya dengan zinc dan titanium. Kedua kandungan ini diketahui mampu mencegah iritasi kulit wajah akibat penggunaan masker.

5. Hindari penggunaan makeup terlalu tebal

Agar tampil menawan meski menggunakan masker, kamu tetap bisa mengenakan makeup, kok. Namun, gunakanlah makeup yang ringan dan tidak terlalu tebal, ya.

Jika kamu memang sedang berjerawat, sebaiknya hindari dulu penggunaan makeup. Pasalnya, makeup dapat menyumbat pori-pori kulit dan memicu timbulnya jerawat atau membuat jerawat semakin parah.

Lakukanlah langkah-langkah yang telah dipaparkan di atas agar kulit wajahmu bebas dari maskne meskipun kamu menggunakan masker seharian. Dengan cara-cara di atas, kulit wajahmu juga akan nampak lebih bersih dan sehat, sehingga kamu bisa tampil lebih percaya diri.

Jika kamu mengalami maskne, terlebih bila sudah parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter, ya. Jangan sembarang mengobati atau memencet jerawat karena bisa membuatnya semakin parah. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memberikan perawatan kulit wajah yang sesuai dengan kondisi kulitmu.

Salam Sehat (^_^)

disadur dari: www.alodokter.com

Mengenal Hipertiroid

Selasa, 15 September 2020 01:05

Penyakit hipertiroidisme atau hipertiroid adalah penyakit akibat kadar hormon tiroid terlalu tinggi di dalam tubuh. Kondisi kelebihan hormon tiroid ini dapat menimbulkan gejala jantung berdebar, tangan gemetar, dan berat badan turun drastis.

Kelenjar tiroid terletak di bagian depan leher dan berperan sebagai penghasil hormon tiroid. Hormon ini berfungsi untuk mengendalikan proses metabolisme, seperti mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan mengatur denyut jantung.

Kerja dari kelenjar tiroid juga dipengaruhi oleh kelenjar di otak yang dinamakan kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis akan menghasilkan hormon yang dinamakan TSH dalam mengatur kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.

Ketika kadar hormon tiroid dalam tubuh terlalu tinggi, maka proses metabolisme akan berlangsung semakin cepat dan memicu berbagai gejala. Penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah memburuknya gejala hyperthyroidism atau hipertiroid yang muncul.

Tanda dan Gejala Hipertiroidisme

Gejala yang ditimbulkan oleh hipertiroidisme terjadi akibat metabolisme tubuh berlangsung lebih cepat. Gejala ini dapat dirasakan secara perlahan maupun mendadak. Gejala yang muncul antara lain:

  • Jantung berdebar
  • Tremor atau gemetar di bagian tangan
  • Mudah merasa gerah dan berkeringat
  • Gelisah
  • Mudah marah
  • Berat badan turun drastis
  • Sulit tidur
  • Konsentrasi menurun
  • Diare
  • Penglihatan kabur
  • Rambut rontok
  • Gangguan menstruasi pada wanita

Selain gejala yang dapat dirasakan oleh penderita, ada beberapa tanda-tanda fisik yang dapat ditemukan pada penderita hipertiroidisme. Tanda tersebut meliputi:

  • Pembesaran kelenjar tiroid atau penyakit gondok
  • Bola mata terlihat sangat menonjol
  • Muncul ruam kulit atau biduran
  • Telapak tangan kemerahan
  • Tekanan darah meningkat

Selain itu, terdapat jenis hipertirodisme yang tidak menimbulkan gejala. Gangguan ini disebut hipertiroid subklinis. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya TSH tanpa disertai dengan hormon tiroid. Setengah penderitanya akan kembali normal tanpa pengobatan khusus.

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala hipertiroidisme. Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan pengobatan.

Konsultasikan dengan dokter secara rutin jika sedang atau baru saja menjalani pengobatan hipertiroidisme. Dokter akan memantau perkembangan penyakit dan respons tubuh terhadap pengobatan.

Hipertiroid dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya untuk penderitanya, yaitu krisis tiroid atau thyroid storm. Segeralah ke IGD jika muncul gejala hipertiroidisme yang disertai dengan demam, diare, hingga penurunan kesadaran, baik selama maupun setelah menjalani pengobatan hipertiroidisme.

Penyebab Hipertiroidisme

Gangguan yang dapat menyebabkan hipertiroid bermacam-macam, mulai dari penyakit autoimun hingga efek samping obat. Berikut ini adalah berbagai penyebab penyakit dan kondisi yang bisa menyebabkan hipertiroidisme:

  • Penyakit Graves akibat autoimun atau kekebalan tubuh sendiri yang menyerang sel normal.
  • Peradangan kelenjar tiroid atau tiroiditis.
  • Benjolan, seperti toxic nodular tiroid, atau tumor jinak di kelenjar tiroid atau kelenjar pituitari (hipofisis).
  • Kanker tiroid.
  • Tumor di testis atau ovarium.
  • Konsumsi obat dengan kandungan iodium tinggi, misalnya amiodarone.
  • Penggunaan cairan kontras dengan kandungan iodium dalam tes pemindaian.
  • Terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung iodium tinggi, seperti makanan laut, produk susu, dan telur.

Selain beberapa penyebab di atas, ada faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hipertiroidisme. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Berjenis kelamin wanita.
  • Memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit Graves.
  • Menderita penyakit kronis, seperti diabetes tipe 1, anemia, atau gangguan kelenjar adrenal.

 

Hipertiroidisme pada kehamilan

Hyperthyroidism atau hipertiroidisme juga dapat terjadi selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan, tubuh menghasilkan hormon alami yang dikenal dengan HCG (human chorionic gonadotropin). Kadar hormon ini akan semakin meningkat, terutama pada usia kehamilan 12 minggu.

Tingginya hormon HCG dalam tubuh dapat merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan lebih banyak hormon tiroid, sehingga memicu munculnya gejala hipertiroidisme. Hipertiroidisme juga rentan terjadi pada kehamilan kembar dan pada kasus hamil anggur.

Diagnosis Hipertiroidisme

Dalam mendiagnosis hipertiroid, dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi tanda hipertiroidisme, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jika dokter telah melihat tanda hipertiroidisme, tes darah akan dilakukan untuk mengukur kadar hormon pemicu tiroid (TSH) dan hormon tiroid dalam darah. Tes darah juga dilakukan untuk mengukur tingginya kadar kolesterol dan gula dalam darah, yang dapat menjadi tanda gangguan metabolisme akibat hipertiroidisme.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi penyebab hipertiroidisme. Beberapa jenis pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah:

  • USG tiroid, untuk memeriksa kondisi kelenjar tiroid dan mendeteksi adanya benjolan atau tumor di kelenjar tersebut.
  • Thyroid scan (nuklir tiroid), untuk memindai kondisi kelenjar tiroid dengan kamera khusus dengan sebelumnya menyuntikan zat radioaktif ke dalam pembuluh darah.
  • Tes iodium radioaktif, sama seperti thyroid scan yaitu untuk memindai kelenjar tiroid dengan sebelumnya pasien diminta menelan zat radioaktif mengandung iodium dosis rendah.

Pengobatan Hipertirodisme

Pengobatan hipertiroid bertujuan untuk mengembalikan kadar normal hormon tiroid, sekaligus mengatasi penyebabnya. Jenis pengobatan yang diberikan juga berdasarkan tingkat keparahan gejala, serta usia dan kondisi penderita secara keseluruhan. Berikut ini beberapa cara mengobati dan mengatasi hipertiroidisme:

Obat-obatan

Pemberian obat bertujuan untuk menghambat atau menghentikan fungsi kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon berlebih dalam tubuh. Jenis obat yang digunakan adalah methimazole, carbimazole dan propylthiouracil. Dokter juga akan memberikan obat yang dapat menurunkan detak jantung untuk mengurangi gejala jantung berdebar.

Dokter akan menurunkan dosis obat apabila kadar hormon tiroid dalam tubuh telah kembali normal, biasanya 1-2 bulan setelah mulai kosumsi obat. Diskusikan dengan dokter endokrin mengenai lamanya penggunaan obat.

Terapi iodium radioaktif

Terapi iodium radioaktif bertujuan untuk menyusutkan kelenjar tiroid, sehingga mengurangi jumlah hormon tiroid yang dihasilkan. Penderita akan diberikan cairan atau kapsul yang mengandung zat radioaktif dan iodium dosis rendah, yang kemudian akan diserap oleh kelenjar tiroid. Terapi iodium radioaktif berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.

Meski dosis yang diberikan rendah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penderita setelah menjalani pengobatan hipertiroid ini, di antaranya:

  • Hindari kontak dengan anak-anak dan ibu hamil selama beberapa hari atau minggu untuk mencegah penyebaran radiasi.
  • Tidak dianjurkan untuk hamil setidaknya selama enam bulan setelah pengobatan.

Operasi

Operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau tiroidektomi dilakukan pada beberapa kondisi sebagai berikut:

  • Pemberian obat dan terapi iodium radioaktif tidak efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
  • Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar tiroid cukup parah.
  • Kondisi penderita tidak memungkinkan untuk menjalani pengobatan dengan obat-obatan atau terapi iodium radioaktif, misalnya sedang hamil atau menyusui.
  • Penderita mengalami gangguan penglihatan yang cukup parah.

Prosedur tiroidektomi dapat bersifat total atau sebagian, tergantung kondisi penderita. Namun, sebagian besar tiroidektomi dilakukan dengan mengangkat seluruh kelenjar tiroid untuk mencegah risiko hipertiroidisme kambuh atau muncul kembali.

Penderita yang menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid total dan terapi radioaktif iodium dapat mengalami hipotiroidisme. Kondisi ini dapat diatasi dengan mengonsumsi obat berisi hormon tiroid. Akan tetapi, konsumsi obat ini mungkin perlu dilakukan seumur hidup.

 

Komplikasi Hipertiroidisme

Hipertiroidisme dapat menyebabkan komplikasi jika penanganan tidak segera dilakukan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:

Bahaya penyakit hipertiroid saat kehamilan

Penanganan hipertiroidisme selama kehamilan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Beberapa komplikasi hipertiroid pada kehamilan yang dapat terjadi:

Pencegahan Hipertiroidisme

Cara terbaik untuk mencegah hipertiroidisme adalah dengan menghindari kondisi yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Sebagai contoh bila Anda menderita penyakit diabetes tipe 1 yang berisiko menimbulkan hipertiroid, Anda perlu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Selain mencegah hipertiroidisme muncul, pencegahan agar gejala yang timbul menjadi tidak lebih buruk juga tidak kalah penting. Ada beberapa pola hidup sehat yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gejala dari hipertiroidisme, yaitu:

sumber : www.alodokter.com

New normal atau adaptasi kebiasaan baru adalah langkah percepatan penanganan covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

Masyarakat hidup “berdampingan” dengan covid-19 sambil menjalani aktifitas seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

Kegiatan-kegiatan pelayanan yang melibatkan masyarakat sebagai sasaran kembali dilakukan setelah sempat dihentikan pelaksanaannya selama beberapa bulan ini karena pandemik covid-19.

Salah satu kegiatan itu adalah pelayanan posyandu balita. Puskesmas Oebobo bersama kader posyandu kembali melakukan pelayanan dengan memperhatikan protokol pencegahan covid-19 seperti cuci tangan dengan sabun dan air mengalir/hand sanitizer, memakai masker, menerapkan physical distancing/jaga jarak, mengukur suhu tubuh pengunjung, mencegah kerumunan, melakukan skrining jika didapati ada gejala flu, demam, batuk pilek, diare/muntah dirujuk ke puskesmas. Sarung timbang dibawa oleh orang tua masing-masing bayi/balita.

 

 Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memasuki posyandu merupakan protokol yang harus dilaksanakan, baik oleh petugas maupun masyarakat

 

Pelaksanaan prokol kesehatan di posyandu antara lain memakai masker, menerapkan physical distancing/jaga jarak,

mengukur suhu tubuh pengunjung,melakukan skrining jika didapati ada gejala flu, demam, batuk pilek, diare/muntah

 

Kegiatan yang dilakukan antara lain penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan/tinggi badan, pembagian vitamin A dan obat cacing, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil dan pelayanan KB.

Selain itu para orang tua balita pun diberikan penyuluhan terkait pelaksanaan posyandu balita new normal dan protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Dengan adanya penyuluhan tersebut diharapkan tingkat kesadaran masyarakat meningkat untuk tetap melaksanakan kebiasaan baru sesuai protocol kesehatan pencegahan covid-19.

Oleh : Penanggung Jawab Promkes UPTD Puskesmas Oebobo Afiani Kinle'e, SKM

Imunisasi merupakan proses untuk membuat seseorang menjadi imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut.

 

Imunisasi BIAS adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), merupakan kegiatan pemberian Imunisasi rutin lanjutan bagi anak usia sekolah Kelas 1, 2, dan 5 SD/MI sederajat.

 

BIAS dilaksanakan setiap tahun pada Bulan Agustus dan November. Pada Bulan Agustus dilakukan Imunisasi Campak Rubella, dan pada Bulan November akan dilakukan Imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus (Td).

 

Bidan Ika Yati Ningsih, Amd. Keb dan Bidan Imelda Papaseda, Amd. Keb sedang memberikan Imunisasi pada peserta didik di SDI Oetete 3

 

UPTD Puskesmas Oebobo melakukan BIAS di Sekolah di Kelurahan Oebobo, Kelurahan Fatululi dan Kelurahan Oetete, yaitu di Kelurahan Oebobo di SD Pelita Hidup dan SD Kasih Yobel, Fatululi di SD Dian Harapan, SDN Oebobo 1, SD GMIT Oebobo, SDI Bertingkat Oebobo, SDN Oebobo 2, dan SDI Oebobo 1, dan Oetete di SDN Oetete 1, SDN Oetete 2 dan SDI Oetete 3. Pelaksanaan BIAS terintegrasi dengan kegiatan Penjaringan peserta didik dan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan.

Program imunisasi BIAS ini dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak usia SD terhadap penyakit campak, difteri dan tetanus. Para guru dan orang tua perlu memberikan dukungan jika anaknya mendapat imunisasi di sekolah oleh petugas kesehatan dari Puskesmas.

 

Dukungan orang tua sangat penting ketika anaknya mendapatkan Imunisasi,

pada gambar tampak Bidan Maria Lada, Amd,Keb dan Bidan Maria A. ndolu Eoh, SST memberikan Imunisasi pada peserta didik

di SD GMIT Oebobo dan SDI Oetete 2

 

Petugas sedang memberikan Imunisasi pada peserta didik di SD Dian Harapan

 

Terdapat 3 imunisasi wajib berulang yang akan diberikan pada saat BIAS, yaitu : Imunisasi campak rubella, pentingnya pemberian imunisasi measles rubella (MR) untuk menghindarkan anak dari risiko cacat hingga kematian. Imunisasi difteri tetanus (DT) biasanya pemberian imunisasi difteri tetanus (DT) juga diberikan secara berulang pada anak sekolah kelas 1 SD. Selanjutnya, imunisasi DT juga dapat diberikan lagi saat anak berusia 12 tahun. Imunisasi ini sangat penting diberikan karena difteri merupakan penyakit infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan. 

Imunisasi tetanus (Td) Vaksin TD (tetanus dan difteri) merupakan vaksin lanjutan dan diberikan sebagai dosis keenam dan ketujuh pada anak yang sebelumnya rutin menerima vaksin DPT atau DPT/Hib. Pemberiannya dilakukan ketika anak berusia 10–12 tahun dan 18 tahun.

Mengenal Penyakit Cacing dan Gejalanya

Selasa, 11 Agustus 2020 02:26

Anak kecil seringkali memasukkan benda asing yang baru mereka lihat ke dalam mulutnya, tak terkecuali tanah atau benda lain saat ia bermain. Padahal, tanah atau benda kotor yang masuk ke mulut bisa saja mengandung larva cacing penyebab cacingan. Nah, sebagai seorang Ibu, sudahkah Anda tahu bagaimana tanda jika si kecil terserang penyakit cacingan?

Penyakit cacingan atau ascariasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang—parasit yang menggunakan usus manusia sebagai inangnya. Telur atau larva cacing gelang berasal di permukaan tanah dan dapat berpindah ke tubuh si kecil jika setelah bermain atau beraktivitas di luar rumah, si kecil makan tanpa mencuci tangan dengan baik. Selain berpindah melalui tangan, Ibu juga perlu waspada: larva cacing juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi sayuran atau buah-buahan yang tidak dicuci bersih.

 

Faktor pemicu penyakit cacingan

Askariasis atau penyakit cacingan lebih rentan menyerang seseorang dengan faktor risiko berikut:

  • Usia. Penyakit cacingan seringnya dialami anak berusia 10 tahun atau kurang. Anak-anak di kelompok usia ini rentan menderita penyakit cacingan karena mereka kerap bermain di tanah.
  • Daerah bersuhu hangat. Prevalensi penyakit cacingan cenderung lebih sering terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki suhu hangat sepanjang tahun.
  • Daerah dengan sanitasi buruk. Penyakit cacingan berisiko tinggi dialami mereka yang tinggal di negara berkembang atau daerah dengan sanitasi buruk.

 

Apa gejala penyakit cacingan?

Anak yang terinfeksi cacing biasanya tidak merasakan tanda atau gejala yang spesifik. Meski begitu, beberapa mungkin dapat merasakan gejala ringan seperti rasa tidak nyaman di perut. Gejala yang dirasakan berbeda-beda, bergantung pada organ atau bagian tubuh yang terinfeksi cacing, yaitu:

  • Di paru-paru: batuk berkepanjangan, sesak napas, bersin-bersin
  • Di usus: nyeri di perut, mual, muntah, diare atau BAB berdarah

Gejala tersebut jika tidak ditangani dengan segera dapat memicu gejala lain yang lebih parah, seperti nyeri perut yang berat hingga kekurangan gizi (malnutrisi).

 

Jika Ibu khawatir si kecil mengidap infeksi cacing, bawalah anak ke dokter atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pelayanan.

sumber: www.combantrin.co.id

Bulan Vitamin A kembali hadir di Bulan Agustus, sepanjang bulan ini UPTD Puskesmas Oebobo melakukan pemberian Vitamin A secara GRATIS bagi bayi dan balita di Kelurahan Oebobo, Fatululi dan Oetete.

Kegiatan Pemberian Vitamin A terintegrasi dengan Pemberian Obat Cacing, dilaksanakan di Puskesmas Oebobo dan Pustu Fatululi dengan mengedepankan protokol kesehatan.

 

Nutrisionis Merly S. Rihi Pake, Amd.Gz sedang Memberikan Vitamin A pada Balita di Puskesmas Oebobo

 

Vitamin A kapsul berwarna biru dengan dosis 100.000 IU diberikan kepada bayi berusia 6-11 bulan, dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU diberikan untuk balita usia 12-59 bulan dan Ibu Nifas.

Kekurangan vitamin A akan melemahkan sistem imun dan produksi sel darah merah (hematopoiesis), menyebabkan ruam kulit, dan gangguan penglihatan (contohnya xerophthalmia, rabun malam).

Kecukupan asupan vitamin A dapat diperoleh dari beragam makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Makanan sumber Vitamin A sebagian besar berasal dari produk hewani seperti daging, telur, susu dan hati, namun beberapa produk nabati juga mengandung Vitamin A terutama sayur-sayuran berwarna seperti wortel, bayam, kol, brokoli, semangka, melon, pepaya, mangga, tomat dan kacang polong.

Salah satu sumber Vitamin A yang dapat mencukupi kebutuhan tubuh khususnya pada bayi dan Balita yaitu suplementasi Vitamin A melalui pemberian kapsul Vitamin A. Pemberian vitamin A diiringi dengan pemberian obat cacing agar penyerapan zat gizi pada balita sempurna dan dapat  meningkatkan status gizi masyarakat.

Kecacingan pada anak akan menimbulkan masalah kesehatan berupa kekurangan gizi yang bersifat kronis  yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada anak. Pemberian obat cacing ini mengikuti dosis, usia 12 - 23 bulan setengah tablet, dan usia 24 bulan s/d 12 tahun satu tablet.

Perawat Sri Herlin Ernawati, S.Kep, Ns sedang memberikan obat cacing pada anak di Puskesmas Oebobo

Masker kini menjadi bagian penting dalam adaptasi new normal di tengah masyarakat. Masker dapat mengurangi risiko infeksi virus corona di tengah pandemi.

Masker membantu mengatasi penyebaran kuman dalam droplet orang yang terinfeksi saat batuk dan bersin. Masker dapat mengurangi jumlah kuman yang dilepaskan pemakainya, sekaligus melindungi seseorang dari ancaman penyakit menular.

Namun, manfaat masker menjadi tidak maksimal jika tidak dilakukan dengan benar.

Cara Menggunakan Masker yang Tepat

Masker tak bisa digunakan dengan cara yang sembarangan. Alih-alih melindungi, cara mengenakan masker yang salah justru akan mempermudah penyebaran virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, masker akan efektif jika dikombinasikan dengan rutinitas mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Berikut cara menggunakan masker yang tepat menurut WHO :

1.    Cuci tangan sebelum menggunakan masker.

  • Tutupi mulut dan hidung dengan masker. Pastikan tak ada celah antara wajah dengan masker.
  • Jangan menyentuh bagian depan masker saat menggunakannya. Jika tak sengaja menyentuh, cuci tangan untuk membersihkan kuman yang mungkin menempel.
  • Ganti masker setelah dirasa lembap. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali.

2.    Cara Melepas Masker

      Sama halnya seperti memakai, melepas masker juga tak bisa dilakukan sembarangan. Berikut cara yang tepat :

  •  Cuci tangan sebelum melepas masker.
  • Jangan sentuh bagian depan masker saat melepasnya. Lepas ikatan di belakang kepala atau lepas tali karet di bagian telinga.
  • Buang masker ke tempat sampah jika Anda menggunakan masker bedah. Jika Anda menggunakan masker kain, lipat dengan cara yang tepat. Jangan sampai bagian luar bersentuhan dengan bagian dalam masker.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun.

 

Kesalahan saat Memakai Masker

      Ada protokol yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker. Kesalahan saat menggunakan berakibat pada penurunan efektivitas masker dan meningkatnya risiko penularan. Berikut beberapa kesalahan memakai masker yang sering menjadi kebiasaan.

Langsung pakai

        Tanpa sadar banyak orang menggunakan masker tanpa memperhatikan kondisi tangan. Padahal, tangan belum tentu aman dari kuman. Untuk memastikan tetap steril, cuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer sebelum mengenakan masker.

Menyentuh bagian depan masker

       Ada saja kalanya saat seseorang kerap menyentuh bagian depan masker. Misalnya, saat melepas masker. Menyentuh bagian depan masker berisiko membuat kuman menempel dan berpindah ke tangan. Selalu cuci tangan setiap kali tak sengaja menyentuh bagian depan masker.

Masker diturunkan ke bawah dagu atau leher

       Melepas masker dirasa terlalu merepotkan untuk kondisi-kondisi tertentu. Misalnya, saat makan. Alih-alih melepas, banyak orang memilih untuk menurunkan masker ke area dagu atau leher. Padahal, cara tersebut bukan solusi yang tepat. Cara tersebut hanya akan membuat area sekitar dagu dan leher terpapar kuman yang menempel di permukaan masker.

Hanya menutup bagian mulut

       Masker memang membuat pernapasan jadi tak nyaman. Akibatnya, banyak orang mengenakan masker hanya dengan menutup bagian mulut. Sementara bagian hidung tetap terbuka. Cara ini jelas keliru. Pasalnya, selain mulut, hidung juga menjadi salah satu pintu masuknya berbagai kuman yang bisa menimbulkan penyakit.

Melipat sembarangan

       Lipat masker dengan baik. Jangan sampai bagian luar masker menyentuh bagian dalam masker.

Memakai masker terlalu lama

       Masker yang terlalu lama akan terasa lembap dan basah. Kondisi tersebut menjadi wadah yang ideal bagi kuman berkembang biak. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali atau saat masker dirasa telah basah

 

sumber dari : www.cnnindonesia.com

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersama dengan masyarakat yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, guna memberdayakan masyarakat dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

Posyandu dapat digolongkan menjadi 4 strata, yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan Posyandu Mandiri.

Posyandu menjadi perpanjangan tangan Puskesmas dalam memberikan pelayanan dan pemantauan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu. UPTD Puskesmas Oebobo memfasilitasi pemberian pelayanan kesehatan di posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas Oebobo, yaitu Posyandu Kelurahan Oebobo, Kelurahan Oetete dan Fatululi.     

Penilaian Posyandu Balita Tingkat Kota Kupang Tahun 2020 di Kelurahan Fatululi dilaksanakan  pada hari Selasa, 14 Juli 2020. Kegiatan dilaksanakan di 3 Posyandu, yaitu Posyandu Apel dengan strata Purnama, Posyandu Lagundi dengan strata Madya dan Posyandu Melati dengan strata Mandiri.

 

Pose Bersama Kader Posyandu Apel, UPTD Puskesmas Oebobo, dan Dinkes Kota Kupang

 

Pose Bersama Kader Posyandu Lagundi, UPTD Puskesmas Oebobo, dan Dinkes Kota Kupang

 

Dengan Tim Penilai dari TP PKK Kota Kupang dan Dinas Kesehatan Kota Kupang (Seksi Promosi Kesehatan). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Lurah sebagai Pembina posyandu balita di Kelurahan Fatululi.

Penilaian posyandu balita dimulai dari menilai kelengkapan administrasi posyandu seperti SK Pengurus Posyandu dan buku administrasi kegiatan posyandu, setelah itu dilanjutkan dengan cakupan kegiatan dan hasilnya. Penilaian dilakukan dengan metode wawancara dan observasi oleh tim penilai.

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Melati oleh Tim Penilai dari TP PKK Kota Kupang

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Apel oleh Tim Penilai dari Dinkes Kota Kupang

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Lagundi oleh Tim Penilai dari Dinkes Kota Kupang

 

Afiani S. Kinle’e SKM selaku Penanggung Jawab Promkes UPTD Puskesmas Oebobo menuturkan bahwa “kegiatan Penilaian Posyandu Balita ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana fungsi vital Posyandu sudah dijalankan dan capain hasilnya. Posyandu merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mencakup lima fungsi pelayanan, yakni pemantauan pertumbuhan, penyuluhan gizi dan kesehatan, imunisasi, pelayanan KB dan pelayanan kesehatan dasar. Selain itu penilaian ini juga dilakukan untuk persiapan lomba posyandu balita Tingkat Provinsi NTT”.

 

Halaman 1 dari 7