Puskesmas Oebobo Kupang

Reni Tangmau

Reni Tangmau

Reni Tangmau

Staf Administrasi pada UPTD Puskesmas Oebobo

Website URL: http://puskesmasoebobo@yahoo.com Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) adalah salah satu bentuk kegiatan dari imunisasi lanjut pada anak sekolah. Imunisasi yang diberikan berupa vaksin campak, difteri tetanus (Dt), dan tetanus difteri (Td).

UPTD Puskesmas Oebobo melaksanakan kegiatan BIAS pada Bulan November bagi peserta didik yang duduk di Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas Oebobo. Imunisasi yang diberikan adalah Imunisasi difteri tetanus (Dt) dan tetanus difteri (Td).

Imunisasi dilaksanakan di SD Oetete 1, SD Oetete 2, SD Oetete 3, SD Pelita Hidup dan SD Kasih Yobel bagi siswa kelas I dan V.

 

Bidan Maria Lada, Amd. Keb Sedang Memberikan Imunisasi Pada Peserta Didik

 

Meski kedua jenis vaksin ini punya nama yang hampir sama, namun keduanya berbeda. Imunisasi Dt adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit infeksi seperti difteri dan tetanus, Sedangkan imunisasi Td merupakan imunisasi lanjutan dari imunisasi Dt agar anak semakin kebal dengan penyakit infeksi tersebut.

Difteri merupakan penyakit serius pada hidung, tenggorokan, dan kulit. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini dapat menyebabkan anak sakit tenggorokan, demam dan kedinginan. Bila terlambat atau tidak segera diobati, difteri bisa mengakibatkan komplikasi berupa masalah pernapasan, gagal jantung, dan kerusakan saraf.

Sementara Tetanus atau lockjaw merupakan penyakit yang bisa terjadi bila kotoran yang mengandung kuman tetanus masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit. Kuman tetanus dapat ditemukan di mana-mana, seperti di tanah, debu, dan kotoran ternak. Infeksi kuman ini dapat menyebabkan kram otot-otot di leher, lengan, tungkai, dan perut, serta kejang-kejang yang bisa terjadi cukup parah untuk mematahkan tulang.

Difteri dan tetanus adalah penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Sehingga para orang tua sebaiknya tidak melewatkan pemberian imunisasi difteri dan tetanus pada anak.

BIAS adalah salah satu bentuk kegiatan dari imunisasi lanjut pada anak sekolah, sasarannya adalah seluruh anak usia sekolah dasar atau sederajat kelas 1 dan kelas 2, imunisasi yang diberikan berupa vaksin campak, difteri tetanus (DT), dan tetanus difteri (TD). Manfaat dari BIAS adalah untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Imunisasi Td sering kali disebut sebagai imunisasi tambahan, sebab bekerja untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap ketiga jenis penyakit infeksi di atas – difteri, tetanus, dan batuk rejan. Selain itu, dosis obat imunisasi Td lebih sedikit ketimbang imunisasi Dt.

Setiap orang direkomendasikan untuk mendapat imunisasi anti tetanus dan difteri setiap 10 tahun. Alasannya, kekebalan tubuh Anda terhadap ketiga penyakit ini bisa saja menurun seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, imunisasi Td lebih dianjurkan untuk orang dewasa.

Kapan anak harus diberikan imunisasi Dt dan imunisasi Td?

Anak setidaknya mendapatkan lima kali imunisasi Dt dengan jadwal berikut :

  • Satu dosis pada usia 2 bulan
  • Satu dosis pada usia 4 bulan
  • Satu dosis pada usia 6 bulan
  • Satu dosis pada usia 15-18 bulan
  • Satu dosis pada usia 4-6 tahun

Sementara imunisasi Td diberikan setelahnya, ketika anak sudah melebihi usia 7 tahun. Biasanya, imunisasi ini diberikan pada anak yang berusia 11 tahun. Kemudian diberikan lagi ketika dewasa yaitu pada usia 19-64 tahun.

Di Indonesia sendiri, pemberian kedua imunisasi ini dilakukan di sekolah-sekolah, yaitu dengan jadwal seperti berikut:

  • Kelas 1 SD, diberikan imunisasi campak dengan waktu pelaksaan setiap bulan Agustus dan imunisas diphteria tetanus (DT) setiap bulan November.
  • Kelas 2-3 SD, diberikan imunisasi tetanus diphteria (Td) di bulan November.

Yang harus diperhatikan sebelum imunisasi Dt

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan bahwa anak yang sedang sakit ketika jadwal imunisasi tiba untuk menunggu dulu hingga dirinya sembuh. Namun bila anak hanya mengalami pilek, flu, atau demam biasa, tidak masalah untuk diberikan imunisasi saat itu juga.

Selain itu, mungkin ada anak yang akan mengalami alergi terhadap imunisasi ini, maka sebaiknya diskusikan hal tersebut dengan dokter anak Anda. Bila memang anak baik-baik saja, maka imunisasi tetap harus dilakukan karena vaksin tak hanya melindungi anak Anda saja dari ancaman infeksi, namun juga orang-orang di sekitar Anda.

sumber : www.hellosehat.com

BIAS DT dan Td bagi Anak

Selasa, 23 November 2021 00:15

UPTD Puskesmas Oebobo sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat di wilayak kerja puskesmas. Agar dapat melaksanakan upaya kesehatan dengan baik dan berkesinambungan, maka puskesmas harus melaksanakan Manajemen Puskesmas dengan baik. UPTD Puskesmas Oebobo sebagai puskesmas yang sudah terakreditasi dan telah melaksanakan program Keluarga Sehat dipercayakan sebagai wahana pembelajaran Manajemen Puskesmas dengan Pendekatan Keluarga, bersama dengan UPTD Puskesmas Manutapen dan Pasir Panjang.

 

Pada hari Jumat, 29 Oktober 2021, UPTD Puskesmas Oebobo menerima kunjungan dari peserta Praktik Lapangan Pelatihan Manajemen Puskesmas dengan Pendekatan Keluarga. Peserta terdiri dari 12 orang, didampingi oleh 2 orang pendamping dan 1 orang Fasilitator dari Bapelkes Provinsi NTT. Peserta berasal dari beberapa Kabupaten di Provinsi NTT yaitu Lembata, Alor, Sabu, Belu, Rote dan Ngada.

 

Peserta/kelas dibagi menjadi tiga kelompok dengan tugas masing-masing kelompok menggali P1, P2 dan P3 di puskesmas lokus. Hal-hal yang digali berupa pelaksanaan program Indonesia Sehat dengan pendekatan Keluarga di Puskesmas, mulai dari perencanaan, penggerakan pelaksanaan, dan pengawasan pengendaliannya, serta kendala yang dihadapi dan tindak lanjut yang akan ataupun telah dilaksanakan oleh Puskesmas.

 

Praktik lapangan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata tentang penerapan manajemen puskesmas dengan pendekatan keluarga dan sejauh mana pelaksanaan penggunaan data PIS-PK dalam siklus manajemen Puskesmas.

 

 

 

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi GERMAS ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.

Program ini memiliki beberapa fokus seperti membangun akses untuk memenuhi kebutuhan air minum, instalasi kesehatan masyarakat serta pembangunan pemukiman yang layak huni. Ketiganya merupakan infrastruktur dasar yang menjadi pondasi dari gerakan masyarakat hidup sehat.

Germas dicanangkan sejak tahun 2015 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 

 7 LANGKAH GERMAS :

  1. Melakukan Aktivitas Fisik
  2. Makan Buah dan Sayur
  3. Tidak Merokok
  4. Tidak Mengkonsumsi Minuman Beralkohol
  5. Melakukan Cek Kesehatan Berkala
  6. Menjaga Kebersihan Lingkungan
  7. Menggunakan Jamban

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Senin, 11 Oktober 2021 04:00

Penjaringan kesehatan merupakan salah satu bentuk kegiatan dari program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) UPTD Puskesmas Oebobo. Pelayanan kesehatan ini bertujuan untuk mendeteksi kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik.

UPTD Puskesmas Oebobo melaksanakan kegiatan penjaringan kesehatan di SMPN 2 Kupang, pada hari kamis, 16 September 2021. Kegiatan Penjaringan kesehatan siswa baru bagi kelas 7 dan kegiatan pemeriksaan berkala dengan sasaran kelas 8. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan kesehatan yang terdiri dari penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan mata, telinga, rambut, kuku, pemeriksaan gigi dan keadaan umum, penyuluhan kesehatan, berupa Penyuluhan Kesehatan Jiwa dan Stunting, sosialisasi pencegahan Anemia pada Rematri (remaja Putri), dan konseling, serta rujukan apabila diperlukan.

Perawat Meriyanti, S.Kep, Ns sedang melakukan pengukuran tinggi badan siswa

 

 

 

Kegiatan ini terintegrasi dengan kegiatan Vaksinasi Covid-19 pada Siswa SMP.

Kegiatan pemeriksaan kesehatan fisik dan penunjang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dari UPTD Puskesmas Oebobo yang terdiri dari  Perawat, Perawat Gigi, Nutrisionis, Penanggung jawab Program Kusta, Penanggung jawab Program Kesehatan Jiwa, Penanggung jawab Program Kesehatan Reproduksi. Kegiatan penjaringan mendapatkan dukungan dari Kepala Sekolah dan guru UKS masing-masing sekolah.

Senin, 13 September 2021 hingga 15 September 2021 berlokasi di Aula SMPN 3 Kupang dilaksanakan rapid test antigen bagi peserta seleksi Kompetensi PPPK Guru Kota Kupang Tahun 2021. UPTD Puskesmas Oebobo menjadi salah satu puskesmas yang dipercayakan untuk melaksanakan rapid test antigen.

 

 

Petugas Laboratorium UPTD Puskesmas Oebobo Salomi M. Molina, Amd. Kes sedang melakukan rapid tes Antigen pada peserta

 

Rapid Tes Antigen ini merupakan salah satu syarat bagi peserta untuk mengikuti seleksi kompetensi. Pemeriksaan Rapid Test Antigen dilaksanakan H-1 sebelum pelaksanaan seleksi kompetensi, dengan memperhatikan  batas waktu berlaku hasil Rapid Test 1 x 24 Jam.

 

Sebelum peserta melaksanakan Rapid Tes Antigen, peserta terlebih dahulu melakukan registrasi dengan menunjukan kartu peserta dan KTP kepada panitia untuk didata dan mendapat nomor antrian. Peserta akan dipanggil berdasarkan antrian untuk diarahkan ke meja pemeriksaan yang sudah disiapkan oleh panitia dari UPTD Puskesmas Oebobo.

 

Rapid Tes Antigen dilaksanakan dengan menerapkan protokol Kesehatan yang ketat. Adapun jumlah peserta yang diperiksa oleh Puskesmas Oebobo adalah 836 orang peserta.

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan agustus, bulan ini menandakan saatnya pemberian vitamin A. Walaupun pandemi, sebisa mungkin diusahakan anak-anak Bapak/Ibu mendapatkan vitamin A untuk menjaga kesehatan mereka..
Oleh karena itu Puskesmas Oebobo mengajak Bapak/Ibu untuk mengambil vitamin A di Puskesmas Oebobo, Posyandu terdekat dan Pustu Fatululi..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pandemi Covid-19 masih terus menambah kasus baru. Selama pandemi Covid-19, terjadi perubahan gaya hidup pada anak-anak. Salah satunya karena kegiatan pembelajaran dilakukan secara online dari rumah.

Penting bagi orangtua untuk memastikan anak tetap memiliki gaya hidup aktif. Sebab, itu adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan anak, baik fisik maupun mental.

Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menjaga kesehatan dan kebugaran anak saat pandemi Covid-19 :

  1. Membatasi waktu layar

Cara pertama menjaga kesehatan anak saat pandemi Covid-19 adalah membatasi waktu di depan layar. Menetapkan screen time atau waktu layar penting untuk diperhatikan.

Terlebih, saat ini anak melakukan pembelajaran secara online yang membuat mereka terpapar gadget lebih lama. Jangan jadikan gadget sebagai satu-satunya media hiburan dan sarana untuk anak menghabiskan waktu.

Sesekali, coba ajak anak untuk bermain permainan papan seperti ludo, kartu, dan lainnya. Hindari pula penggunaan gadget pada anak di bawah usia dua tahun karena berisiko menyebabkan penurunan keterampilan sosial dan perkembangan bahasa. Dampak negatif lainnya adalah penurunan keterampilan kognitif dan peningkatan amarah pada anak.

  1. Gaya hidup aktif

Gaya hidup kurang gerak dapat menyebabkan banyak penyakit. Ajari anak tentang pentingnya olahraga dan gaya hidup aktif demi kehidupan masa depan.

Orangtua bisa mengajak anak melakukan olahraga yang menyenangkan, seperti bulu tangkis, bermain sepatu roda, sepak bola, basket, dan lainnya. Selain penting untuk kebugaran, membiasakan aktivitas fisik juga dapat membantu membangun fisik dan meningkatkan kemampuan mental anak.

Secara bersamaan, hal tersebut membantu mengembangkan keterampilan sosial serta koordinasi motorik halus.

  1. Tidur yang cukup

Kualitas tidur yang cukup dapat membuat otak berfungsi lebih baik keesokan harinya. Idealnya, anak-anak tidur setidaknya delapan hingga 10 jam tidur, tergantung usianya. Waktu tidur yang cukup membuat tubuh dan otak anak dapat berfungsi dengan baik.

Orangtua juga perlu menerapkan protokol sleep hygiene agar anak mendapatkan kualitas tidur lebih baik tanpa gangguan. Caranya, pastikan tidak ada suara keras dalam kamar tidur.

Sebaliknya, ganti dengan musik lembut atau lagu pengantar tidur. Membaca cerita pengantar tidur juga bisa membantu. Selain itu, jangan bermain gadget sebelum tidur karena menghambat produksi hormon melatonin yang membantu menciptakan rasa kantuk.

  1. Makan bergizi

Anak-anak harus memiliki pola makan seimbang dan kaya nutrisi untuk perkembangannya. Sebisa mungkin, hindari menyertakan makanan tinggi gula, garam, lemak, pengawet, dan tepung olahan. Tingginya gula dalam makanan dapat menyebabkan hiperaktif dan sulit memusatkan perhatian. Baca juga: 4 Masalah Makan Pada Anak dan Cara Mengatasinya.

  1. Memanfaatkan energi secara tepat

Anak-anak memiliki energi yang sangat besar, jika dibandingkan dengan orang dewasa. Jika dibiarkan tanpa pengawasan, hal itu dapat membawa efek negatif.

Energi anak harus dimanfaatkan untuk kemajuannya. Permainan konstruktif, seperti permainan papan, harus dikenalkan pada anak sejak usia dini untuk merangsang pikirannya. Aktivitas yang menyertakan energi fisik, seperti naik tangga, berenang, berlari, dan lainnya harus diperkenalkan serta dijadikan bagian dari rutinitas sehari-hari.

Demikian cara menjaga kesehatan anak saat pandemi Covid-19. Selain langkah di atas, ajarkan anak untuk menjalankan protokol kesehatan secara disiplin seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

sumber : https://kesehatan.kontan.co.id

Artikel ini tayang di kontan.co.id dengan judul “Inilah 5 cara menjaga kesehatan anak saat pandemi Covid-19 & ancaman corona B.1.1.7”

Semakin bertambahnya angka kejadian covid-19 pada anak dan semakin penuhnya kapasitas di Rumah Sakit untuk perawatan, membuat beberapa kriteria seperti penderita covid-19 tanpa gajala dan bergejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri saja di rumah.

Kita harus tahu hal apa yang dapat dilakukan di rumah saat menjaga anak yang sedang isolasi mandiri. Dan juga barang apa saja yang harus dipersiapkan untuk memantau kondisi anak.

 

 

Seseorang yang telah di vaksin Covid-19 harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Vaksin dapat memberikan manfaat berupa menumbuhkan antibodi, namun belum diketahui efektivitasnya dalam mencegah transmisi atau penularan terhadap orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang telah di vaksin harus tetap mematuhi protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga Jarak).

Epidemiolog dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat Defriman Djafri mengatakan usai vaksinasi COVID-19, seseorang minimal membutuhkan waktu 14 hari untuk mengetahui apakah antibodi atau kekebalan telah terbentuk di dalam tubuh. Sehingga, dalam kurun waktu tersebut peluang terinfeksi virus masih ada apalagi protokol kesehatan tidak dilakukan dengan baik dan benar sesuai anjuran pemerintah.

Salah satu tujuan vaksinasi adalah untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok. Sementara itu, kekebalan kelompok atau herd immunity ini baru bisa terjadi kalau 70 persen rakyat Indonesia divaksin, sehingga bisa melindungi 30 persen rakyat lainnya yang tidak bisa divaksin atau yang rentan kesehatannya.

Kita tetap wajib menjaga daya tahan tubuh. Setelah vaksin, bukan berarti bisa ke tempat ramai. Kita juga harus tetap makan dan minum yang bergizi , mengkonsumsi vitamin dan tetap menjaga hati bahagia.

Menjalankan protokol kesehatan seharusnya sudah menjadi bagian dari gaya hidup di masa pandemi. Dengan begitu, walau sudah mendapatkan dosis vaksin lengkap tetap harus melaksanakan prokes secara berkelanjutan, tetap berhati-hati dan waspada. Namun tidak perlu diiringi kepanikan.

 

Halaman 1 dari 10