Puskesmas Oebobo Kupang

Reni Tangmau

Reni Tangmau

Reni Tangmau

Staf Administrasi pada UPTD Puskesmas Oebobo

Website URL: http://puskesmasoebobo@yahoo.com Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Hari Asma Sedunia diperingati tanggal 5 Mei setiap tahunnya. Hari Asma Sedunia diperingati sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah asma. Tanggal 5 Mei 2021 kita berhadapan dengan pandemi covid-19. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), penderita asma sedang hingga berat kemungkinan berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi ketika terinfeksi COVID-19. Apa saja yang perlu dipersiapkan bagi penderita asma untuk menghadapi pandemi covid-19?

1.    Mengurangi aktivitas di luar rumah

Salah satu tips menghadapi COVID-19 bagi penderita asma adalah mengurangi aktivitas di luar rumah. Sama seperti masyarakat pada umumnya, berada di rumah bisa membantu memperlambat penyebaran virus.

Apabila Anda menderita asma dan tidak perlu pergi ke kantor atau bekerja di luar rumah, usahakan untuk ke luar hanya untuk kepentingan di bawah ini:

Selain mengurangi pergi ke luar, menghindari menyentuh wajah saat tangan belum dicuci pun diperlukan. Bahkan, sebaiknya Anda menggunakan tisu untuk menyeka hidung ketika bersin atau batuk.

 

2. Menerapkan penanganan asma dengan cermat

Bagi para penderita asma, pandemi COVID-19 membuat mereka harus meningkatkan kewaspadaan. Terlebih lagi, gejala COVID-19 terlihat mirip dengan gejala asma, sehingga membedakannya pun mungkin terasa sulit.

Hal ini dikarenakan ketika penderita asma mengalami infeksi pada saluran pernapasan, gejala asma mereka akan muncul.

Oleh karena itu, tindakan terbaik yang bisa Anda lakukan adalah menerapkan beberapa langkah menangani gejala asma yang sederhana selama pandemi, seperti:

  • tetap menggunakan inhalersetiap waktu yang telah ditentukan
  • membawa inhaler pereda (berwarna biru) setiap hari, terutama saat gejala asma terjadi
  • tetap melanjutkan pengobatan yang sedang berjalan, termasuk inhaler berisi steroid
  • membuat peak flow harianuntuk membedakan gejala asma dan COVID-19
  • menghindari pemicu asma
  • menyediakan stok obat-obatan jika perlu di rumah dalam waktu yang lama
  • berhenti merokok untuk mengurangi risiko tertular COVID-19
  • mencoba mengelola rasa cemas saat pandemiyang bisa memicu serangan asma

Dengan demikian, Anda bisa melewati hari-hari dengan tenang selama pandemi COVID-19 ini berlangsung karena adanya panduan saat serangan asma terjadi.

 

3. Minta bantuan orang lain untuk mendisinfeksi barang

Selain menyiapkan obat-obatan dan rencana saat serangan asma terjadi, penderita asma pun perlu membersihkan barang dengan disinfektan, terutama saat COVID-19 berlangsung.

Bila memungkinkan, usahakan meminta bantuan orang lain yang tidak menderita asma untuk membersihkan barang menggunakan disinfektan. Pasalnya, bahan-bahan pada disinfektan memungkinkan Anda untuk mengalami serangan asma, sehingga lebih baik minta bantuan orang lain.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penderita asma saat membersihkan barang dan ruangan dengan disinfektan.

  • tidak berada di ruangan yang sama
  • meminimalkan penggunaan disinfektan berbahan yang bisa memicu asma
  • membuka setiap jendela dan pintuserta menggunakan kipas agar udara ke luar
  • membersihkan permukaan barang, seperti remote TV, meja, gagang pintu dan meja
  • menyemprotkan atau menuangkan produk semprot ke kain atau handuk kertas

 

Bagaimana jika penderita asma terinfeksi COVID-19?

 

Walaupun berbagai upaya telah dilakukan, tidak menutup kemungkinan penderita asma terkena infeksi COVID-19. Apabila hal ini terjadi pada Anda, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika mengembangkan gejala COVID-19, yaitu:

  • tetap berada di rumah dan lakukan konsultasi via internet
  • menggunakan layanan khusus untuk COVID-19 demi mendapatkan saran
  • memberitahu tenaga kesehatan bahwa Anda menderita asma dan gejalanya memburuk
  • mencari tahu perbedaan batuk biasa dengan batuk saat terinfeksi COVID-19
  • tetap mengikuti rencana tindakan asma yang sudah dibuat
  • minum obat asma yang sudah diresepkan dokter seperti biasa
  • minta bantuan ke petugas medis via telepon jika gejala COVID-19 tidak kunjung mereda

Penggunaan inhaler memang dapat membantu Anda meredakan gejala asma, seperti sesak napas dan batuk. Namun, pemakaian inhaler mungkin tidak dapat membantu meringankan gejala yang disebabkan oleh COVID-19, seperti sesak napas.

disadur dari : hellosehat.com, alodokter.com

UPTD Puskesmas Oebobo bersama mahasiswa Poltekes Kemenkes Kupang Prodi Sanitasi melakukan Kerja Bakti bagi masyarakat di RT 39 Kelurahan Fatululi.

Kegiatan berlangsung pada hari Senin, 19 April 2021, kegiatan meliputi kerja bakti membersihkan lingkungan, desinfeksi rumah warga bagi yang bersedia, pembagian masker gratis, penyuluhan keliling tentang DBD dan Covid-19.

Mahasiswa sedang melakukan desinfeksi rumah warga

 

Dengan desinfeksi diharapkan dapat mengurangi/menghilangkan virus covid-19 di lingkungan rumah warga. Selain desinfeksi, masyarakat diingatkan tentang 5M, yaitu

  1. Memakai masker,
  2. Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir,
  3. Menjaga jarak,
  4. Menjauhi kerumunan, serta
  5. Membatasi mobilisasi dan interaksi.

 

Masyarakat harus selalu menjaga kebersihan lingkungan, mengingat tidak hanya covid-19 yang mengancam, tetapi juga DBD (Demam Berdarah Dengue). DBD dapat dicegah dengan menerapkan 3M Plus yaitu :

  1. Menguras, merupakan kegiatan membersihkan/menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya.
  2. Menutup, merupakan kegiatan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. Menutup juga dapat diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor dan dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk.
  3. Memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), khususnya barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.

Yang dimaksudkan Plus-nya adalah bentuk upaya pencegahan tambahan seperti berikut:

  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  • Menggunakan obat anti nyamuk
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
  • Gotong Royong membersihkan lingkungan
  • Periksa tempat-tempat penampungan air
  • Meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup
  • Memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk

Hari Diabetes Nasional yang diperingati setiap 18 April ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatannya agar terhindar dari penyakit diabetes. Diabetes menempati urutan ketiga penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia sejak tahun 2014. Selain itu, International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa Indonesia berada di posisi ketujuh dari 10 negara dengan jumlah pasien penderita diabetes tertinggi di tahun 2020. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengenal diabetes dan mencegah terjadinya diabetes.

Diabetes adalah penyakit kronis terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang telah dihasilkan. Insulin merupakan hormon dalam tubuh yang berperan dalam mengatur gula darah (glukosa). 

Diabetes dibedakan menjadi 2 jenis secara umum yaitu, diabetes tipe 1 dan tipe 2. Kedua tipe inilah yang dikenal masyarakat sebagai diabetes melitus (DM). Adapula jenis diabetes lainnya, yaitu diabetes insipidus, diabetes gestasional, dan kondisi prediabetes. Berikut penjelasan masing-masing tipe diabetes.

 

Tanda dan Gejala Diabetes

  1. Meningkatnya frekuensi buang air kecil

Karena sel-sel di tubuh tidak dapat menyerap glukosa, ginjal mencoba mengeluarkan glukosa sebanyak mungkin. Akibatnya, penderita jadi lebih sering kencing daripada orang normal dan mengeluarkan lebih dari 5 liter air kencing sehari. Ini berlanjut bahkan di malam hari. Penderita terbangun beberapa kali untuk buang air kecil. Itu pertanda ginjal berusaha singkirkan semua glukosa ekstra dalam darah.

  1. Rasa haus berlebihan 

Dengan hilangnya air dari tubuh karena sering buang air kecil, penderita merasa haus dan butuhkan banyak air. Rasa haus yang berlebihan berarti tubuh Anda mencoba mengisi kembali cairan yang hilang itu.

  1. Penurunan berat badan

Kadar gula darah terlalu tinggi juga bisa menyebabkan penurunan berat badan yang cepat. Karena hormon insulin tidak mendapatkan glukosa untuk sel, yang digunakan sebagai energi, tubuh memecah protein dari otot sebagai sumber alternatif bahan bakar.

  1. Kelaparan

Rasa lapar yang berlebihan, merupakan tanda diabetes lainnya. Ketika kadar gula darah merosot, tubuh mengira belum diberi makan dan lebih menginginkan glukosa yang dibutuhkan sel.

  1. Kulit jadi bermasalah

Kulit gatal, mungkin akibat kulit kering seringkali bisa menjadi tanda peringatan diabetes, seperti juga kondisi kulit lainnya, misalnya kulit jadi gelap di sekitar daerah leher atau ketiak.

  1. Penyembuhan lambat

Infeksi, luka, dan memar yang tidak sembuh dengan cepat merupakan tanda diabetes lainnya. Hal ini biasanya terjadi karena pembuluh darah mengalami kerusakan akibat glukosa dalam jumlah berlebihan yang mengelilingi pembuluh darah dan arteri. Diabetes mengurangi efisiensi sel progenitor endotel atau EPC, yang melakukan perjalanan ke lokasi cedera dan membantu pembuluh darah sembuhkan luka.

  1. Infeksi jamur

Diabetes dianggap sebagai keadaan imunosupresi itu berarti meningkatkan kerentanan terhadap berbagai infeksi, meskipun yang paling umum adalah candida dan infeksi jamur lainnya. Jamur dan bakteri tumbuh subur di lingkungan yang kaya akan gula.

  1. Iritasi genital

Kandungan glukosa yang tinggi dalam urin membuat daerah genital jadi seperti sariawan dan akibatnya menyebabkan pembengkakan dan gatal.

  1. Keletihan dan mudah tersinggung

Ketika orang memiliki kadar gula darah tinggi, tergantung berapa lama sudah merasakannya, mereka kerap merasa tak enak badan. Akibatnya, bila lelah orang cenderung mudah tersinggung.

  1. Pandangan yang kabur

Penglihatan kabur atau sesekali melihat kilatan cahaya merupakan akibat langsung kadar gula darah tinggi. Pembuluh darah di retina menjadi lemah setelah bertahun-tahun mengalami hiperglikemia dan mikro-aneurisma, yang melepaskan protein berlemak yang disebut eksudat.

  1. Kesemutan atau mati rasa

Kesemutan dan mati rasa di tangan dan kaki, bersamaan dengan rasa sakit yang membakar atau bengkak, adalah tanda bahwa saraf sedang dirusak oleh diabetes.

Pada diabetes, gula darah yang tinggi bertindak bagaikan racun. Diabetes sering disebut ‘Silent Killer’ jika gejalanya terabaikan dan ditemukan sudah terjadi komplikasi. Jika Anda memiliki gejala ini, segera tes gula darah atau berkonsultasi ke petugas kesehatan.

Pencegahan Diabetes Melitus

Pencegahan penyakit diabetes melitus tipe 2 terutama ditujukan kepada orang-orang yang memiliki risiko untuk menderita DM tipe 2. Tujuannya adalah untuk memperlambat timbulnya DM tipe 2, menjaga fungsi sel penghasil insulin di pankreas, dan mencegah atau memperlambat munculnya gangguan pada jantung dan pembuluh darah.

Faktor risiko DM tipe 2 dibedakan menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Usaha pencegahan dilakukan dengan mengurangi risiko yang dapat dimodifikasi.

  1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi contohnya ras dan etnik, riwayat anggota keluarga menderita DM, usia >45 tahun, riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG), dan riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.
  2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi contohnya berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi (> 140/90 mmHg), gangguan profil lipid dalam darah (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL, dan diet tak sehat tinggi gula dan rendah serat.

Pencegahan DM tipe 2 pada orang-orang yang berisiko pada prinsipnya adalah dengan mengubah gaya hidup yang meliputi :

  1. Olah raga

Aktivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolah raga rutin, minimal 150 menit perminggu, dibagi 3-4 kali seminggu. Olahraga dapat memperbaiki resistensi insulin yang terjadi pada pasien prediabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan membantu mencapai berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga lebih aktif saat beraktivitas sehari-hari, misalnya dengan memilih menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki ke pasar daripada menggunakan mobil, dll.

  1. Penurunan berat badan

Menurut penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe 2.

  1. Pengaturan pola makan

Dianjurkan pula melakukan pola makan yang sehat, yakni terdiri dari karbohidrat kompleks, mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut. Asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.

Anda perlu menghindari beberapa jenis makanan sekaligus meningkatkan asupan makanan tertentu. Berikut daftarnya :

  • Makanan tinggi lemak jenuh, seperti susu sapi berlemak, keju, es krim, sosis, nugget, kue, dan gorengan.
  • Makanan dan minuman kemasan.
  • Makanan tinggi natrium, seperti garam, bumbu masak instan, dan mi instan.
  • Makanan dan minuman tinggi karbohidrat sederhana, seperti permen, kue kering, minuman ringan, jajanan manis (martabak).
  1. Tidak merokok

Merokok, walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2. Oleh karena itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.

Hari Tuberculosis seduni setiap tahunnya diperingati pada tanggal 24 Maret. Pada tahun ini. Hari TBC Sedunia diperingati dengan tema “The Clock is Ticking”, yang menjadi tanda peringatan bahwa dunia sudah kehabisan waktu untuk bertindak memberantas penyakit TBC secara global. Sebab, setiap hari hampir 4.000 orang meninggal karena TBC dan hampir 28.000 orang jatuh sakit karena penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan ini.

Terlebih lagi di kondisi saat ini, dengan adanya pandemi Covid-19 yang masih merebak di masyarakat, menjadi salah satu kendala untuk mencapai kemajuan dalam progres pemberantasan penyakit TBC.

Seperti diketahui, COVID-19 dan TBC memiliki gejala yang mirip seperti demam dan batuk. Bagaimana membedakan keduanya?

Gejala TBC

  • Batuk lebih dari 2 minggu
  • Demam
  • Keringat pada malam hari
  • Berat badan turun

Gejala COVID-19

  • Batuk kering
  • Demam lebih dari 38 derajat celcius.
  • Nyeri sendi, nyeri kepala, pilek, gangguan penciuman dan pengecapan.
  • Kelelahan
  • Sesak napas
  • Gangguan pencernaan (mual, muntah, mencret)

Sementara menurut dokter paru yang juga Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, gejala yang paling umum ditemui pada TB dan Covid-19 adalah demam dan batuk. Ia menyebut penemuan perbedaan kasus TB dan Covid-19 bisa dilakukan saat tracing.

"Gejala keluhan batuk itu sekian persen terjadi pada Covid-19 dan TBC begitu juga dengan demam. Jadi ada keluhan demam batuk maka jangan dilepas begitu saja, itu diperiksa untuk ke arah TBC," jelas Prof Tjandra dalam kesempatan yang sama.

Setelah mengetahui gejala TBC, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan bagi penderita TBC aktif untuk mencegah penularan yang meluas di masyarakat, yaitu :

  • Tinggal di rumah. Jangan pergi bekerja atau sekolah atau tidur sekamar dengan orang lain selama beberapa minggu pertama pengobatan tuberkulosis aktif.
  • Beri ventilasi ruangan. Kuman tuberkulosis lebih mudah menyebar di ruang tertutup kecil di mana udara tidak bergerak. Jika di luar ruangan tidak terlalu dingin, buka jendela dan gunakan kipas angin untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.
  • Tutupi mulutmu. Gunakan tisu untuk menutupi mulut Anda setiap kali Anda tertawa, bersin, atau batuk. Masukkan tisu kotor ke dalam tas, tutup rapat, dan buang.
  • Kenakan masker. Mengenakan masker bedah saat Anda berada di sekitar orang lain selama tiga minggu pertama perawatan dapat membantu mengurangi risiko penularan.
  • Menyelesaikan seluruh pengobatan. Ini adalah langkah terpenting yang dapat Anda ambil untuk melindungi diri Anda dan orang lain dari tuberkulosis. Jika Anda menghentikan pengobatan lebih awal atau melewatkan dosis, bakteri TBC berpeluang mengembangkan mutasi yang memungkinkan mereka bertahan dan kebal dari obat. Jenis yang resistan terhadap obat jauh lebih mematikan dan sulit diobati.
  • Melakukan vaksinasi. Vaksinasi Calmette-Guerin (BCG) pada bayi untuk mencegah tuberkulosis yang parah pada anak-anak.

Selain menghadapi pandemi Covid-19, kita juga tidak boleh lengah pada penyakit lainnya, salah satunya adalah Tuberculosis.

Pandemi COVID-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan jiwa dan psikososial setiap orang. Menurut WHO (2020), munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisam masyarakat.

Puskesmas Oebobo bekerja sama dengan Humanity & Inclusion (HI) dan Circle of Imagine Sociaty (CIS) Timor menyediakan layanan hotline psikososial GRATIS bagi masyarakat yang membutuhkan.

Layanan ini diharapkan dapat mengurangi beban emosi individu maupun masyarakat. Dengan kondisi emosi masyarakat yang bisa ditangani dengan baik, diyakini juga akan membantu kesiapan dan daya tahan masyarakat dalam situasi pandemi saat ini.

Informasi terkait layanan ini bisa disimak di bawah ini. Salam Sehat.

Layanan Hotline Psikososial Gratis

Rabu, 24 Maret 2021 02:07

Vaksinasi selain untuk membuat tubuh kebal terhadap virus juga membantu untuk membangun kekebalan imun dalam suatu komunitas yang diharapkan berujung pada berhentinya pandemi covid-19. Oleh karenanya, peran masyarakat dalam mendukung vaksinasi Covid-19 dinilai penting. Di Indonesia, Vaksinasi Covid 19 dilakukan secara bertahap. Sekarang kita sampai pada Vaksinasi Covid-19 Tahap 2. Vaksinasi tahap 2 termin 1 ini diberikan kepada kelompok Lansia usia 60 tahun ke atas dan pelayan Publik.

Vaksinasi Covid-19 sangat penting bagi lansia karena kelompok usia lanjut lebih rentan terhadap infeksi virus Corona. Adanya penyakit penyerta dan kondisi fisik yang mulai melemah membuat lansia lebih sulit untuk melawan infeksi, termasuk Covid-19. Itulah sebabnya, lansia menjadi prioritas untuk menerima vaksin ini.

 

Apa saja hal yang perlu diperhatikan sebelum menerima vaksin Covid-19?

Sebelum menerima vaksi, ada hal-hl yang perlu diperhatikan agar proses vaksinasi dapat berjalan lancar, yaitu :

  • Mengenakan masker dari rumah hingga ke tempat vaksinasi.
  • Membawa hand sanitizer dan balpoin sendiri.
  • Apabila ingin membawa air minum maka gunakan sedotan untuk meminimalisir membuka masker.
  • Usahakan tidak membuka masker di lokasi vaksinasi.
  • Pastikan kondisi tubuh sedang fit sebelum vaksinasi, misalnya tidur yang cukup sehari sebelum vaksin dan makan makanan yang cukup dan bergizi.
  • Usahakan menggunakan kendaraan pribadi, dan apabila menggunakan kendaraan umum, maka ingatlah untuk selalu meminimalisir kontak dengan orang lain.

 

Selesai Vaksin, hal apa saja yang perlu diperhatikan?

Selain mempersiapkan diri sebelum vaksin, kita juga perlu memperhatikan beberapa hal setelah vaksin, seperti :

  • Menunggu 30 menit di ruang observasi.
  • Tetap menjaga jarak dengan orang di sekeliling
  • Dianjurkan untuk istirahat yang cukup.
  • Berolah raga asal dilakukan dengan cara yang benar
  • Mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang

Perlu perhatikan jika setelah mendapat vaksinasi, tubuh kita akan menyesuaikan dengan virus Covid-19 yang sudah 'dijinakkan' itu. Sehingga menjaga tubuh tetap vit dan sehat membantu untuk meningkatkan efektivitas vaksin virus ini. Ingat ya, vaksin ini bukan obat.

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Covid-19

Setelah vaksin diberikan, para penerima vaksin dianjurkan menunggu selama 30 menit. Saat itu, tenaga kesehatan akan memantau dan memastikan tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI bisa terjadi dengan menimbulkan beragam gejala yakni sifatnya lokal semisal nyeri bekas suntikan, bengkak di lokasi suntikan dan kemerahan pada pada bekas suntikan, atau sistemik seperti demam, dan sakit kepala.

Untuk antisipasi, berikut efek yang mungkin bisa terjadi pada orang yang divaksinasi Covid-19.

  • Di lengan di mana tempat disuntik bisa terasa nyeri dan mengalami pembengkakan. Jika terjadi kompreslah area lengan yang disuntik atau gerakkan lengan secara perlahan. Jika dalam 24 jam tidak mereda, segera hubungi kontak petugas terkait. 
  • Bisa dirasakan oleh tubuh yakni demam, menggigil, kelelahan hingga sakit kepala. Jika terjadi selama masa observasi segera melapor pada petugas di lokasi. Namun, jika terjadi keluhan itu kurang dari 24 jam maka segera menghubungi petugas kesehatan terkait.
  • Jika ada efek samping yang mengkhawatirkan atau tampaknya tidak akan pergi setelah beberapa hari segera melapor ke petugas kesehatan terkait.

Tetaplah menjaga kesehatan dan ingat selalu 5M (mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumuman, dan menjaga mobilitas). Salam Sehat.

Disadur dari : https://www.popmama.com, www.bisnis.com

 

Puskesmas Oebobo melakukan kegiatan Vaksinasi covid-19 tahap 2. Vaksinasi dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu Jam 09.00 s/d 12.00 WITA. Berlokasi di Puskesmas Oebobo.

Pelaksanaan vaksinasi dimulai pada hari Sabtu, tanggal 06 Maret 2021. Sebanyak 37 orang Lansia, 10 orang pelayanan publik dan 14 orang tenaga kesehatan telah divaksinasi pada hari tersebut.

Vaksinasi tahap 2 termin 1 ini diberikan kepada kelompok Lansia usia 60 tahun ke atas dan pelayan Publik. Dengan sasaran 400 orang kelompok lansia, 100 orang Kepala Sekolah SD se- Kota Kupang, 20 orang pegawai Pengadilan Negeri Kupang, dan 20 orang pegawai Kejaksaan Negeri Kota Kupang.

Sasaran penerima vaksin wajib membawa KTP (Kartu Tanda Penduduk). Di Meja 1 akan dilakukan pendaftaran dan verifikasi data. Di meja 2 sasaran penerima vaksin akan diskrining oleh petugas untuk memastikan layak atau tidak menerima vaksin Covid-19. Adapun sasaran yang layak diminta lanjut ke meja 3. Di sini dilakukan pemberian vaksin. Di meja 4 akan dilakukan observasi. Petugas mempersilahkan sasaran untuk menunggu 30 menit sebagai antisipasi bila ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Nantinya penerima vaksin diberikan kartu vaksinasi dan penanda edukasi pencegahan Covid-19.

UPTD Puskesmas Oebobo, melaksanakan kegiatan pemeriksaan Polimerase Chain Reaction Swab atau yang dikenal dengan PCR swab. Pemeriksaan berlangsung di Puskesmas pada hari Jumat, 5 Maret 2021.

Berdasarkan hasil tracing Tim Surveilans puskesmas, terdapat 66 orang warga, yang merupakan kontak erat dari pasien meninggal yang terkonfirmasi positif covid-19, pasien dengan hasil pemeriksaan swab antigen positif, serta kontak erat dari pasien terkonfirmasi positif covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Oebobo.

Pemeriksaan dilaksanakan oleh petugas laboratorium puskesmas, surleilans puskesmas dan Tim 3 T.

Pemeriksaan PCR swab menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam hidung maupun tenggorokan. Sebab virus corona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke dalam tubuh. Hasil akhir dari pemeriksaan swab PCR ini nantinya akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus SARS-COV2 di dalam tubuh seseorang.

Setelah proses pengambilan sampel selesai, akan dilakukan pengiriman sampel untuk diproses lebih lanjut hingga diketahui hasil pemeriksaan tersebut.

Selama menunggu hasil, warga yang sudah diperiksa wajib menjalani protokol isolasi mandiri di rumah, di bawah pemantauan Tim Surveilans puskesmas.

Pemeriksaan PCR swab merupakan salah satu Upaya 3T. 3T terdiri dari pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). Pemeriksaan dini menjadi penting karena dengan mengetahui lebih cepat akan dapat dilakukan perawatan dengan cepat dan tepat., serta menghindari potensi penularan covid-19 ke orang lain.

 

Bagi beberapa orang yang terkonfirmasi positif covid-19, telah menjalani masa Isolasi selama 14 hari, dan dikatakan sembuh, namun masih saja mengalami beberapa gejala covid-19. Hal ini disebut sebagai Long COVID-19. Long Covid-19 dapat tetap timbul dalam hitungan minggu, hingga bulan sejak pemeriksaan terakhir menunjukkan hasil yang negatif.

 

Beberapa Gejala dari Long COVID-19

Long COVID-19, yang disebut juga long-haul atau long-tail, adalah istilah yang digunakan orang-orang untuk menjelaskan jika seseorang mengidap gejala virus corona lebih dari dua minggu. Hal ini telah ditetapkan oleh WHO secara resmi dan mengartikan jika beberapa orang membutuhkan waktu yang lebih lama bagi virus tersebut. Agar berhenti menimbulkan gangguan pada tubuh seseorang.

Beberapa pengidap penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini dapat mengalami masalah yang mungkin lebih parah dari beberapa gejala yang umum timbul, seperti batuk terus-menerus, demam, hingga hilangnya kemampuan untuk mengecap atau mencium bau. Meski begitu, gejala ini tidak dianggap menular kepada orang lain, hanya saja masalah yang dirasakan dapat terjadi dalam waktu yang lama. Berikut ini beberapa gejala dari long COVID-19:

 

1. Gejala yang Ringan

Seseorang yang mengidap masalah ini dapat merasakan gejala yang ringan dan juga berat. Beberapa gejala yang timbul saat mengalami gangguan yang ringan adalah kelelahan, sesak napas, nyeri otot, nyeri sendi, kehilangan ingatan dan konsentrasi, hingga depresi. 

Gangguan ini dapat menyebabkan beberapa orang kesulitan untuk menjalani aktivitas hariannya. Maka dari itu, jika kamu mengalami sesak napas dalam waktu yang lama, batuk yang sulit sembuh, hingga nyeri sendi dan otot, ada baiknya untuk memeriksakan diri agar dapat menghindari masalah yang lebih besar.

 

2. Gejala yang Lebih Parah

Hal lainnya yang harus kamu tahu adalah sekitar 10–15 persen kasus dari gejala long COVID-19 ini dapat berkembang menjadi penyakit berat di mana 5 persen menyebabkan sakit kritis. Disebutkan jika terjadi penurunan kapasitas fisik saat berolahraga dan tingkat kesehatan, yang secara signifikan lebih berisiko tinggi terhadap seseorang yang pernah mengidap SARS dalam 24 bulan terakhir.

Beberapa gangguan parah yang dapat terjadi, antara lain:

  • Jantung: Gangguan ini juga dapat berdampak buruk pada jantung yang meliputi kerusakan pada otot jantung dan gagal jantung.
  • Paru-Paru: Kamu juga dapat mengalami kerusakan jaringan paru-paru dan gagal paru restriktif disebabkan oleh virus corona yang terjadi dalam jangka panjang.
  • Otak dan sistem saraf: Masalah lainnya yang dapat terjadi pada otak dan sistem saraf adalah kehilangan indra penciuman (anosmia), masalah yang berhubungan dengan tromboemboli, seperti emboli paru, serangan jantung, dan stroke, hingga gangguan kognitif.

 

Lalu, apa yang menyebabkan beberapa orang mengalami gejala yang lebih lama?

Dikutip dari King's College London, seseorang yang mengidap penyakit ini dan dirawat di rumah sakit membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih sepenuhnya. Meski begitu, semakin banyak bukti yang menunjukkan jika beberapa orang memiliki gejala yang relatif ringan dan dirawat di rumah juga bisa mengalami long COVID-19. Gangguan ini meliputi kelelahan yang luar biasa, jantung yang terus berdebar-debar, nyeri otot, hingga kesemutan.

 

Namun, hal yang perlu diketahui adalah setiap orang yang mengidap COVID-19 dapat merasakan gejala yang berbeda. Maka dari itu, kamu perlu memastikan jika gejala yang dirasakan benar berhubungan dengan long COVID-19 atau tidak dengan cara memeriksakan diri ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Sumber : www.halodoc.com

Waspadai Gejala Long Covid-19

Rabu, 24 Februari 2021 01:13

UPTD Puskesmas Oebobo melakukan fogging focus atau pengasapan dengan insektisida membasmi nyamuk demam berdarah. Hal itu untuk mencegah penyebaran/penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Fogging dilakukan pada hari Rabu, 10 Februari 2021 dan Kamis, 11 Februari 2021 Pukul 16.00 Wita hingga selesai berlokasi 2 (dua) titik fokus yakni di RT 5, 7, 8 dan 31 Kelurahan Fatululi.

Fogging dilakukan oleh Tim P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Kota Kupang yang dipimpin oleh Bapak Ferry Djelalu, S.KM didampingi oleh Pengelola Program DBD Puskesmas Oebobo Ibu Tabitha A. Timu, S. KM serta Ketua RT setempat.

Fogging ini bertujuan untuk memberantas nyamuk-nyamuk dewasa yang kemungkinan infeksius. Di sisi lain pemberantasan penyakit DBD juga harus terintegrasi mulai dari pencegahan, penemuan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan, dan penyuluhan kepada masyarakat.

Pencegahan DBD dapat dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus yaitu:

  1. Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain;
  2. Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya;
  3. Mendaur/ menggunakan kembali  yang sudah tak terpakai

Plus cara lain diantaranya menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dikuras dan dibersihkan.

Berantas Nyamuk DBD dengan Fogging Focus

Senin, 15 Februari 2021 03:48
Halaman 2 dari 10